PERSALINAN MACET

Banyak  hal yang menyebabkan persalinan berjalan tidak  lancar, 
tidak normal, mengalami kemacetan. bisa-bisa karena  anaknya 
yang  besar, bisa-bisa karena panggulnya yang  sempit,  bisa-bisa  
  karena  tenaga,  kekuatan kontraksi rahim dan  kekuatan  mengedan 
  ibu.  Bisa-bisa juga karena pimpinan persalinan yang  salah  oleh 
  sewaktu  ibu  mengedan. 
  Dapat juga terjadi karena kecemasn dan ketakutan yang berle­
  bihan  terhadap  persalinan, menyebabkan  kontraksi  rahim  tidak 
  efisien,  takut dan cemas karena bermacam-macam  sebab,  sehingga 
  jalan  lahir yang seharusnya bisa relaksasi menjadi  spastik  dan 
  kaku.  Karena   kesakitan menimbulkan  ketakutan  dan  kecemasan, 
  ketakutan  menimbulkan  kekakuan  dan  spasme,  dan  ketakutanpun  
  menimbulkan kesakitan yang berlebihan, sehingga melingkar-lingkar 
  disana-sana  saja seperti lingkaran  setan,  sehingga  persalinan 
  itu  berlangsung  semakin lama. Semakin lama  persalinan  semakin 
  cemas dan semakin takut pula si ibu, sehingga lingkaran berputar-
  putar di situ-situ juga. 
  Pendekatan  emosionil  yang salah  (Improper  emosionil  ap­
  proach)  dapat mengakibatkan inertia uteri atau  kontraksi  rahim 
  yang  lemah.   Untuk  itu di perlukan  penolong  persalinan  yang 
  senantiasa  bersedia mendampingi dan memberikan kepercayaan  yang 
  tinggi  pada pasien bahwa dia akan tertolong dan tenaga  penolong 
  siap  sedia didampingnya serta memberikan sugesti  dan  petunjuk-
  petunjuk  bagaimana  mengedan yang baik  dan  bagaimana  mengatur 
  pernafsan dan cara bernafas saat-sat akan melahirkan.
  Dan persaliann macet ini bila terjadi dan memang agak sering 
  terjadi  di  kampung-kampung  nun jauh disana.  Dimana  gizi  dan 
  ekonomi  sang  ibu  rendah, sehingga  badannya  lemah.  kemampuan 
  payah, sehinga melahirkan jadi susah. Bermacam hal dapat  terjadi 
  sebagai  rentetannya.  Ketika  persalian macet,  si  ibu  menjadi 
  cemas,  semua  yang hadirpun  berkeluh kesah. Sering  petugas  me   
  nyarankan  untuk di rujuk dan di kirim ke tempat yang lebih  bisa 
  menolong. Dilakukan lebih dulu rundingan ninik mamak dan  keluar­ 
  ga,  kemudian  mengumpulkan uang, sementara  itu  waktu  berjalan 
  terus.  
  Mencari mobil untuk membawa pasien, di kampung-kampung  yang 
  jauh  tidaklah  mudah. Jangankan mobil,  sepedapun  masih  susah, 
  sehingga hal ini menyebabkan  waktu makin berlalu. Padahal setiap 
  tambahan waktu, menyebabkan keadanan si bayi yang di dalam  rahim 
  semakin  letih   dan bertambah payah, karena setiap  kali  si  bu 
  merasakan  sakit  , berarti  rahimnya  berkontraksi,  menyebabkan 
  darah berkurang ke plasenta, sehinga si bayi mengalami kekurangan 
  oksigen  dan makanan yang di butuhkannya.  ini  akan  memperjelek 
  kesehatan si bayi. Apalagi kalau otaknya yang kekurangan  oksige­n
  akan menimbulkan kerancuan. Bisa-bisa si bayi kelak menjadi anak 
  bodoh  dan  menambah beban masyarakat. Begitupun si  ibu  semakin 
  letih dan semakin lelah, tenaga telah terkuras. Badan lah  letih, 
  nafas  lah sesak, tenaga lah habis, sedangkan bayi  ndak  kunjung 
  lahir.  Sedangkan  orang-orang masih pada  berunding  dengan  apa 
  membawa si ibu dan berapa persiapan yang di perlukan.
  Tidak  jarang saya lihat, sewaktu menerima pasien  di  rumah 
  sakit,  penuh  mobil dengan orang yang mengantarkan  pasien,  dan 
  ketika  semua  keluarga yang mengantarkan itu di panggil  dan  di 
  minta untuk mencari darah , mereka pada bingung karena yang  ikut 
  dalam mobil itu orang-orang dan juga ibu-ibu kurang darah.  Pada­
  hal  kalau mengantar pasien seperti ini, sebaiknya  diikuti  oleh 
  yang muda-muda yang sehat, karena kemungkinan besar ibu hamil ini 
  membutuhkan pertolongan yang memerlukan darah. Jadi siapkan sejak 
  dari kampung famili-famili yang bersedia jadi donor darah.
  Namun tak sedikit pula orang kampung yang melahirkan  dengan 
  dukun,  takut membawa ke rumah sakit karena membayangkan akan  di 
  operasi.  Sehinga  meminta pada dukun  "Hidup atau mati  biar  di 
  tempat  mak  dukun saja". Sikap-sikap yang  seperti  inilah  yang 
  menyebabkan, persalinan makin berlarut-larut, ibu dan anak  sema­
  kin gawat.
  Agaknya  perlu di ketahui oleh kita semua  bahwa  persalinan 
  akan terjadi rata-rata dalam 12 jam sesudah seorang ibu merasakan 
  sakit-sakit.  Kalau  dalam 12 jam sang bayi  belum  lahir,  sudah 
  masanya petugas  atau famili pasien menentukan sikap untuk  beru­
  saha  mengirim  sang  ibu ke tempat  pertolongan  yang  mempunyai 
  fasilitas  lebih. Sebab semakin ditunggu semakin,  berlarut-larut 
  dan semakin lama, dan akhirnya sang bayi tak kunjung dan tak  mau 
  lahir  juga,  karena memang untuk  kelahirannya  akan  memerlukan 
  tindakkan. 
  Sebagai  patokan  agaknya dapat di pedomani  warna  air  ketuban. 
  Ketuban  yang keruh apalagi yang hijau. Adalah pertanda  si  bayi 
  dalam  keadaan bahaya, Si bayi berteriak S.O.S  Save  Ours  Sole. 
  Tolong selamatkan jiwa kami.  Hijaunya air ketuban adalah  karena 
  ketuban itu tercampur mekoneum. Mekoneum baru keluar apabila usus 
  kekurangan Oksigen. Kekurangan oksigen menyebabkan usus  berusaha 
  berkontraksi mengeluarkan isinya, dan sphingter ani  berelaksasi, 
  sehingga sang bayi terberak-berak didalam rahim yang  menimbulkan 
  air  ketuban  berwarna hijau. 
  Disaat  usus mengalami kekurangan oksigen, maka saat itu  sebetul 
  nya  semua  organ mengalami kekurangan oksigen,  Jika  kekurangan 
  oksigen  ini  terjadi di otak. Terjadilah kerusakan  dalam  otak. 
  Otak  yang  kekurangan oksigen akan  menimbilkan  kerusakan  yang 
  permanen. Otaknya susah berkembang, sehingga melahirkan bayi-bayi 
dengan  IQ  yang rendah. Pita otaknya pendek ndak  mampu  merekam 
  pelajaran-pelajaran yang tinggi. Anak jadi bodoh.
  Pada  ibu terjadi keletihan yang luar biasa. Nadinya cepat,  jan­ 
  tung  berdebar  kencang. Nadi dan jantung  yang  berdenyut  cepat 
  tidak efisien dalam bekerja. Dia kehabisan kalori, dia kekurangan 
  daya tahan, mudah terjadi infeksi. Yang akan meningkatkan  morbi­
  ditas dan mortalitas. Agaknya angka 12 jam dapat dijadikan  pato­
  kan,  jangan di lewati, karena bahaya senantiasa mengancam.  Han­
  taran dan uluran tangan penolong seperti dukun dan bidanlah  yang 
  dapat dengan segera merujuk, demi keselamtan ibu dan anak.
  Agar  jangan  sampai ke titik yang lebih membahayakan  lagi  baik 
  bagi ibu dan anak. Maka secepatnya pasien harus di rujuk. Apalagi 
  bayi-bayi  yang  sudah letih jika dilahirkan,  akan  menghasilkan 
  anak-anak  yang letih sehingga kalau dewasa kelak susah  bersaing 
  dan susah memperjuangkan hidupnya. Padahal kita sangat  membutuh­ 
  kan  dan mendambakan generasi penerus yang sehat dengan  IQ  yang 
  tinggi. Sehingga SDM jadi baik.
  Persalinan yang macet dan tak lancar adalah merupakan petaka bagi 
  ibu  dan  bayi. Untuk keadaan ini agaknya perlu  penanganan  yang 
  terpadu.  Karena  ibu  dan bayi perlu dan harus  segera  bisa  di 
  tolong dan di selamatkan. Sebagaimana kita harus segera  menyela­
  matkan  orang  yang  dalam keadaan bahaya.  Padahal  kita  sering 
  membntuk   petugas dan tim SAR untuk menyelamatkan  dan  mencari 
  orang yang sedang di timpa musibah. 
  Barang kali, dimana ada persalinan yang berlangsung lebih dari 12 
  jam,  petugas  di  sini, mengabarkan dan  memberi  tanda  bahaya, 
  memberi  tahu  ORARI misalnya, nanti ORARI meminta  dan  menolong 
  mencari bantuan, sehinga berdatangan  mobil-mobil siap  membantu; 
  apakah  mobil PEMDA atau mobil PKK, atau mobil Darmawanita,  Atau 
  mobil plat merah yang banyak berkeliaran kesana kemari, atau mobl 
  Puskesmas  keliling, atau mobil siapa saja. Saya kira ini  adalah 
  amal  yang  setinggi-tinggi menyelamatkan dan  menolong  2  nyawa 
  sekali gus. Karena bagi ibu ini, waktu adalah nyawa, makin  cepat 
  seorang  ibu  yang  dalam keadaan bahaya itu di  bawa  ke  tempat 
  rujukkan  semakin cepat tertolong 2 nyawa dan semakin cepat  bayi 
  itu di lahirkan sehingga di harapkan semakin tinggi kualitas bayi 
  yang lahir dan semakin baik si ibu yang melahirkan.

  Agaknya  ini adalah tugas kita semua. Disamping petugas  bertugas 
  menolong  ibu  dan bayi. Semua lingkungan masyarakat  mulai  dari 
  pejabat  dan  organisasai massa dan orari, kalau perlu  tim  sar, 
  sangat banyak bisa berjasa.
  Kadang-kadang saya merenung. Untuk mencari orang yang sudah  mati 
  dan jelas tak bisa tertolong lagi, seperti orang terbenam  dilaut 
  atau mengangkat mayat di puncak gunung, kita kerahkan segenap dan  
  semua  lapisan masyarakat dengan dana yang besar. Sedangkan  yang 
  mati tetap tak akan bisa hidup lagi. Tapi dua nyawa ibu dan  anak 
  yang masih hidup dan dengan penuh harapan mendambakan pertolongan 
  dan  bantuan.  Kenapa  sering kita terlupa  dan  terlalai  dengan 
  waktu,  sehingga  sering membiarkan dan  tak  segera  mengerahkan 
  segenap  tenaga, segenap usaha dan segenap pertolongan untuk  dua 
  nyawa itu? Sehingga terjadi persalinan yang berlarut-larut?.
  Untuk  itu  sayat eringat akan sebuah Firman suci_Nya  dalam  Al-
  Qur'an surat Az-Zumar ayat 8 :
  "Apabila  manusia di timpa kemelaratan (Malapetaka),  ia  memohon 
  kepada Tuhan-Nya serta kembali Taubat kepada_Nya......"
  Disampaikan pada peringan HKN di

2 Komentar »

  1. Dimas Said:

    Tulisannya om. gedein dikit donk…
    bisa rabun aku bacanya…
    hehehehehe….

  2. edda Said:

    waduh,, semoga qta slalu siap siaga aja dh


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: